Task : Essay 'Tema : Korupsi'
Subject : Introduction to Sociology
Lecturer : Ms. Gita Akmal
Saya bersyukur hidup dan lahir di Indonesia., negeri yang dibilang grup legendaries
Koes Plus sebagai “Tanah Surga”. Karena begitu suburnya, sampai diibaratkan tongkat
kayu dan batu jadi tanaman. Saya juga bangga tercatat menjadi warga negara yang
berpenduduk besar mencapai 220 juta jiwa lebih. Itu artinya, saya memiliki banyak
sekali saudara yang tersebar di seluruh nusantara.
Dengan memiliki banyak saudara, ke manapun saya berada, tak terbesit rasa takut
akibat kekerasan, ancaman, kelaparan apalagi penipuan dari saudara-saudara yang
se-tanah air.
Namun, harapan tinggal harapan. Realita yang dapat kita lihat amat berbeda.
Populasi penduduk yang tidak terkendali menimbulkan banyak persaingan hidup yang
sangat ketat. Tak heran apabila, banyak yang memutar otak mempertahankan hidup
walau melalui kreativitas sesat. Apa saja diakali demi menangguk keuntungan yang
berlimpah.
Rasa bangga menjadi bangsa Indonesia secara langsung atau tidak, mulai terkikis,
bahkan malu, setelah merasakan hidup di bangsa yang mulai ambruk. Korupsi, menjadi
contoh kecil dari awal mulanya masalah-masalah bangsa yang semakin menghantui.
Korupsi merupakan salah satu bagian dari masalah yang menjadi momok bagi keuangan
dan masa depan bangsa. Bagaimana tidak, ketika kita tahu bahwa banyak sekali
peningkatan nominal pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), hal yang
harapan adalah bersama dengan itu, pembangunan akan jauh berkembang pesat.
Tetapi ternyata dana APBN yang disediakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas
bangsa terus diputar berbelok arah dari arah yang sebenarnya dan malah melaju cepat
menuju rekening-rekening para pejabat. Dari bidang pendidikan sekiranya 6,43 % dana
pendidikan APBN dikorupsi. Nilainya bukan hanya ratusan juta tapi mencapai milyaran
rupiah. Tapi mengapa Pendidikan dihambat oleh para pejabat bangsa sendiri. Negara
juga dirugikan senilai milyaran rupiah terkait dengan masalah tidak disetorkannya
Pajak Penghasilan oleh sejumlah daerah di Jawa Barat. Ternyata dan tersebut
dipergunakan untuk menutup berbagai kegiatan dan tunjangan, termasuk tunjangan bagi
pimpinan dan anggota dewan. Sesungguhnya saya juga berharap adakah Zorro bagi
Indonesia? Zorro adalah seorang tokoh pahlawan berkuda dan bertopeng yang berupaya
mencuri barang-barang orang yang kaya dan sombong terutama mendapat kekayaan
dari hal yang tidak lurus. Kemudian apa yang ia dapatkan ia bagikan bagi orang-orang
miskin yang membutuhkan. Atau seperti si Pitung, tokoh Betawi yang mencuri harta
belanda dan membagi-bagikannya pada bangsa Indonesia yang ditindas Belanda. Saya
tidak mengharapkan adanya tindak pencurian seperti itu. Tapi seharusnya semua orang
sadar bahwa Korupsi bukan jalan yang pantas dalam mendapat kenikmatan duniawi dan
kekuasaan, tetapi memang akan sedikit lebih baik, jika uang tersebut dibagikan
kepada orang miskin yang membutuhkan. Memang hal tersebut merupakan kreativitas
sesat, tetapi lebih baik daripada pundi-pundi hasil korupsi tersebut dinikmati oleh
diri sendiri.
Langkah maju pemberantasan korupsi terus bergulir bak bola salju . Meskipun
putarannya terkadang masih zigzag, diharapkan pada kemudian hari arahnya bisa lebih
fokus. Pekerjaan pemberantasan korupsi jelas bukan hanya banyak tidaknya temuan
uang yang terindikasi korupsi oleh BPK, tetapi persoalannya bagaimana menghimpun
kembali dana-dana yang raib tersebut agar kembali lagi ke pundi-pundi keuangan
negara. Oleh karena itu langkah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan beberapa
institusi lain yang berupaya dalam pemberantasan korupsi pantas mendapat apresiasi
lebih. Seperti yang telah kemukakan oleh BPK , bahwa tindak lanjut temuan
pemeriksaan BPK saat ini baru mencapai 36,15 %, senilai Rp. 101 triliun. Melihat
tingginya nilai kebocoran negara dan rendahnya tindak lanjut penyelesaian temuan-
temuan BPK, sehingga kebiasaan perhatian kita terhadap peningkatan anggaran sebagai
ukuran kemajuan pembangunan sepertinya pantas untuk dikoreksi. Selain itu, menurut
saya, modus operandi penanganan tindak korupsi saat ini juga harus mulai melihat
dari nilainya, bukan hanya terfokus pada banyaknya jumlah kasus korupsi yang terjadi
di negara.
Untuk menghilangkan korupsi diperlukan kesadaran dari hal yang menjadi dasar.
Kesadaran bahwa tindakan tersebut merugikan banyak orang, banyak sosok, banyak
golongan dan menimbulkan kecemasan sosial yang dapat menghancurkan bangsa sendiri.
Apa mereka, sosok tikus-tikus penggerogot pundit-pundi uang bangsa sadar bahwa
ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang menderita karena apa yang mereka lakukan?
Apakah mereka sadar bahwa mereka menikmati kesenangan dan kesuksesan diatas
penderitaan banyak orang? Karena seperti yang kita semua ketahui, ketidaksadaran
menjadi akar masalah utama pembangunan dan kemajuan negara ini. Intinya orang yang
benar berarti orang yang sadar, tetapi orang yang sadar belum tentu benar. (sherly)
Kamis, 08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar