Kamis, 08 Oktober 2009

Korupsi

Task : Essay 'Tema : Korupsi'

Subject : Introduction to Sociology

Lecturer : Ms. Gita Akmal

Saya bersyukur hidup dan lahir di Indonesia., negeri yang dibilang grup legendaries

Koes Plus sebagai “Tanah Surga”. Karena begitu suburnya, sampai diibaratkan tongkat

kayu dan batu jadi tanaman. Saya juga bangga tercatat menjadi warga negara yang

berpenduduk besar mencapai 220 juta jiwa lebih. Itu artinya, saya memiliki banyak

sekali saudara yang tersebar di seluruh nusantara.

Dengan memiliki banyak saudara, ke manapun saya berada, tak terbesit rasa takut

akibat kekerasan, ancaman, kelaparan apalagi penipuan dari saudara-saudara yang

se-tanah air.

Namun, harapan tinggal harapan. Realita yang dapat kita lihat amat berbeda.

Populasi penduduk yang tidak terkendali menimbulkan banyak persaingan hidup yang

sangat ketat. Tak heran apabila, banyak yang memutar otak mempertahankan hidup

walau melalui kreativitas sesat. Apa saja diakali demi menangguk keuntungan yang

berlimpah.

Rasa bangga menjadi bangsa Indonesia secara langsung atau tidak, mulai terkikis,

bahkan malu, setelah merasakan hidup di bangsa yang mulai ambruk. Korupsi, menjadi

contoh kecil dari awal mulanya masalah-masalah bangsa yang semakin menghantui.

Korupsi merupakan salah satu bagian dari masalah yang menjadi momok bagi keuangan

dan masa depan bangsa. Bagaimana tidak, ketika kita tahu bahwa banyak sekali

peningkatan nominal pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), hal yang

harapan adalah bersama dengan itu, pembangunan akan jauh berkembang pesat.

Tetapi ternyata dana APBN yang disediakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas

bangsa terus diputar berbelok arah dari arah yang sebenarnya dan malah melaju cepat

menuju rekening-rekening para pejabat. Dari bidang pendidikan sekiranya 6,43 % dana

pendidikan APBN dikorupsi. Nilainya bukan hanya ratusan juta tapi mencapai milyaran

rupiah. Tapi mengapa Pendidikan dihambat oleh para pejabat bangsa sendiri. Negara

juga dirugikan senilai milyaran rupiah terkait dengan masalah tidak disetorkannya

Pajak Penghasilan oleh sejumlah daerah di Jawa Barat. Ternyata dan tersebut

dipergunakan untuk menutup berbagai kegiatan dan tunjangan, termasuk tunjangan bagi

pimpinan dan anggota dewan. Sesungguhnya saya juga berharap adakah Zorro bagi

Indonesia? Zorro adalah seorang tokoh pahlawan berkuda dan bertopeng yang berupaya

mencuri barang-barang orang yang kaya dan sombong terutama mendapat kekayaan

dari hal yang tidak lurus. Kemudian apa yang ia dapatkan ia bagikan bagi orang-orang

miskin yang membutuhkan. Atau seperti si Pitung, tokoh Betawi yang mencuri harta

belanda dan membagi-bagikannya pada bangsa Indonesia yang ditindas Belanda. Saya

tidak mengharapkan adanya tindak pencurian seperti itu. Tapi seharusnya semua orang

sadar bahwa Korupsi bukan jalan yang pantas dalam mendapat kenikmatan duniawi dan

kekuasaan, tetapi memang akan sedikit lebih baik, jika uang tersebut dibagikan

kepada orang miskin yang membutuhkan. Memang hal tersebut merupakan kreativitas

sesat, tetapi lebih baik daripada pundi-pundi hasil korupsi tersebut dinikmati oleh

diri sendiri.

Langkah maju pemberantasan korupsi terus bergulir bak bola salju . Meskipun

putarannya terkadang masih zigzag, diharapkan pada kemudian hari arahnya bisa lebih

fokus. Pekerjaan pemberantasan korupsi jelas bukan hanya banyak tidaknya temuan

uang yang terindikasi korupsi oleh BPK, tetapi persoalannya bagaimana menghimpun

kembali dana-dana yang raib tersebut agar kembali lagi ke pundi-pundi keuangan

negara. Oleh karena itu langkah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan beberapa

institusi lain yang berupaya dalam pemberantasan korupsi pantas mendapat apresiasi

lebih. Seperti yang telah kemukakan oleh BPK , bahwa tindak lanjut temuan

pemeriksaan BPK saat ini baru mencapai 36,15 %, senilai Rp. 101 triliun. Melihat

tingginya nilai kebocoran negara dan rendahnya tindak lanjut penyelesaian temuan-

temuan BPK, sehingga kebiasaan perhatian kita terhadap peningkatan anggaran sebagai

ukuran kemajuan pembangunan sepertinya pantas untuk dikoreksi. Selain itu, menurut

saya, modus operandi penanganan tindak korupsi saat ini juga harus mulai melihat

dari nilainya, bukan hanya terfokus pada banyaknya jumlah kasus korupsi yang terjadi

di negara.

Untuk menghilangkan korupsi diperlukan kesadaran dari hal yang menjadi dasar.

Kesadaran bahwa tindakan tersebut merugikan banyak orang, banyak sosok, banyak

golongan dan menimbulkan kecemasan sosial yang dapat menghancurkan bangsa sendiri.

Apa mereka, sosok tikus-tikus penggerogot pundit-pundi uang bangsa sadar bahwa

ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang menderita karena apa yang mereka lakukan?

Apakah mereka sadar bahwa mereka menikmati kesenangan dan kesuksesan diatas

penderitaan banyak orang? Karena seperti yang kita semua ketahui, ketidaksadaran

menjadi akar masalah utama pembangunan dan kemajuan negara ini. Intinya orang yang

benar berarti orang yang sadar, tetapi orang yang sadar belum tentu benar. (sherly)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar