Task : Mini Research Leadership
Subject : Professional Studies
Lecture : Mr. Arnold Paalam
JENIS GAYA KEPEMIMPINAN
Source – Internet : http://organisasi.org
1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari
dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang
oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan
tugas yang telah diberikan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang
secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan
bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin
memberikan informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya
yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.
KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN
Source - Book : GREAT COMMUNICATION SECRETS OF GREAT LEADER
Pemimpin harus dapat berkomunikasi dan memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan
organisasi dan memperoleh kepercayaan. Tindakan-tindakan khusus pemimpin, seperti
memperjelas visi, membangun harapan, menentukan rencana, dan selalu membiarkan
masuknya umpan balik, merupakan cara-cara yang lebih lanjut untuk memperlihatkan
kepercayaan. Komunikasi kepemimpinan berakar dari sifat si pemimpin maupun
nilai-nilai organisasi. Komunikasi kepemimpinan merupakan ekspresi budaya maupun
budaya maupun indicator iklim, seperti keterbukaan, integritas, dan kejujuran.
TUJUAN KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN
• Memperkuat visi dan misi organisasi
• Mendorong prakarsa transformasi, misalkan : perubahan
• Mengeluarkan ajaran untuk bertindak
• Memperkuat kemampuan berorganisasi
PESAN KEPEMIMPINAN
Pemimpin yang baik harus dapat mengembangkan pesan kepemimpinan. Menjadi seorang
pemimpin harus jelas ; . Jika pemimpin tidak dapat mengungkapkan pandangannya
secara jelas, semua elemen yang berada dibawah kepemimpinan, seperti department,
tim, karyawan dan yang lainnya akan terkatung-katung dalam ketidakjelasan. Hal
tersebut sama sulitnya seperti menjawab pertanyaan siapa kita, dan mengapa kita ada,
kadang-kadang kita melupakan bagian “Apa pesanku?”
Cara untuk membangun kredibillitas sebagai pemimpin
• Katakan yang sebenarnya. Sampaikan fakta. Terus terang pada orang lain.
Bagikan informasi sesuai pada tempatnya
• Jangan sembunyikan kabar buruk. Dengan keanekaragaman informasi yang
tersedia, berita buruk selalu cepat tersebar. Maka seorang pemimpin yang
baik harus berterus terang dari awal.
• Jangan pernah berlebihan dalam berjanji. Jangan membuat janji yang tidak
dapat anda tepati. Laksanakan apa yang anda janjikan. Katakan kepada orang
apa yang akan anda lakukan, kemudian segera lakukan.
Hal yang Harus dihindari dalam kepemimpinan
Source - Blog : http://blog.yuliarto.com/category/kepemimpinan/ Paul Peterson
• Memiliki ego yang tinggi sehingga menghindar dari pertanyaan, tidak mau
mendengarkan pendapat orang lain.
• Mengerjakan semuanya tanpa mendelegasikan tugasnya kepada orang yang dibawah
pimpinannya
KASUS 1 : KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN
Ada satu perusahaan yang benar-benar sukses, harga sahamnya naik, para analis pasar
memuji-muji tim manajemennya. Singkatnya pada saat yang cemerlang itu, perusahaan
itu tampak tidak memiliki cacatnya. Kemudian semua menjadi berantakan. Mungkin
karena kegagalan produk baru, atau pindahnya seorang pemimpin senior ke perusahaan
lain, atau karena kekalahan pasar, tetapi tiba-tiba orang yang datang ke perusahaan
itu hanyalah nyamuk pers yang mencari tahu apa yang terjadi.
Bila Hal ini terjadi, dan tampaknya ini dapat terjadi dalam siklus setiap perusahaan
yang sukses, pemimpin perusahaan mempunyai dua pilihan dalam berkomunikasi. Mereka
dapat tutup mulut dan berharap cerita itu akan hilang sendirinya atau mereka dapat
berbicara lantang dan memecahkan isu-isu mereka berdasarkan masukan-masukan dari
para stakeholder penting.
Hampir semua perusahaan membuat pilihan yang salah-dalam menghadapi kabar buruk,
mereka lebih suka tidur daripada membuat pernyataan. Parahnya, manajer senior
diam-diam lebih suka berkumpul dengan sesama mereka daripada berbicara dengan
karyawan.Dengan tidak adanya kata-kata dari pimpinan, orang akan menciptakan pesan
mereka sendiri, khususnya dalam bentuk desas desus, sindiran dan gossip. Akibatnya
timbul berbagai permasalahan, karyawan yang seharusnya dapat menjadi bagian dari
solusi, berubah menjjadi bagian dari masalah. Mengapa? Sebab mereka tidak diberi
informasi – lebih buruk lagi, mereka semua mendapat informasi yang salah. Pihak
pimpinan seharusnya maju dan mengatakan hal yang sebenarnya bukannya membiarkan
orang-orang yang mengambil keputusan masing-masing. Jika anda membiarkan karyawan
mengambil keputusannya sendiri-sendiri tanpa membekali mereka dengan pesan-pesan
yang benar, mereka akan menarik kesimpulan yang berlawanan dengan kesimpulan yang
pemimpin inginkan. Secara otomatis mereka akan mengasumsikan yang terburuk, padahal
mungkin masalahnya tidak begitu berat, asalkan diberitahukan pada waktunya.
Jumat, 02 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar