Task : Analisa Kinerja Pegawai
Subject : Management Strategies
Lecturer : Mr. Anthony Tampubolon
Pengertian Kinerja Pegawai
Pengertian Kinerja yaitu suatu hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang karyawan
diartikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Manusia Perusahaan, mengemukakan pengertian kinerja sebagai berikut :
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
karyawan melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Selanjutnya peneliti juga akan mengemukakan tentang definisi kinerja karyawan
menurut Bernandin & Russell (1993:135) yang dikutip oleh Faustino cardoso gomes
dalam bukunya yang berjudul Human Resource Management,
Performansi adalah catatan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau
kegiatan selama periode waktu tertentu.
Sedangkan Veithzal Rivai (2006:309) mengatakan bahwa kinerja merupakan
perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan
oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas mengungkapkan bahwa dengan hasil kerja yang
dicapai oleh seorang karyawan dalam melakukan suatu pekerjaan dapat dievaluasi
tingkat kinerja pegawainya, maka kinerja karyawan harus dapat ditentukan dengan
pencapaian target selama periode waktu yang dicapai organisasi.
Pengukuran Kinerja Pegawai
Selanjutnya peneliti akan mengemukakan ukuran-ukuran dari Kinerja karyawan yang
dikemukakan oleh Bernandin & Russell (1993:135) yang dikutip oleh Faustino cardoso
gomes dalam bukunya Human Resource Managemen yaitu sebagai berikut :
1. Quantity of work : jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode
2. Quality of work : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat
3. Job Knowledge : luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya.
4. Creativeness : keaslian gagasan –gagasan yang dimunculkan dan tindakan
5. Cooperation : kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain atau sesama
6. Dependability : kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal kehadiran d
7. Initiative : semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru
8. Personal Qualities : menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan
Sedangkan Agus Dharma dalam bukunya Manajemen Supervisi (2003:355) mengatakan
”hampir semua cara pengukuran kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
a. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran
kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan.
Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.
b. Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif
keluaran mencerminkan pengukuran ”tingkat kepuasan”, yaitu seberapa baik
penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran.
c. Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Pengukuran
ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan
ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
Adapun aspek-aspek standar kinerja menurut A.A.Anwar Prabu Mangkunegara
(2005:18-19) terdiri dari aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.
Aspek kuantitatif meliputi:
(1) Proses kerja dan kondisi pekerjaan
(2) Waktu yang dipergunakan atau lamanya melaksanakan pekerjaan,
(3) Jumlah kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan, dan
(4) Jumlah dan jenis pemberian pelayanan dalam bekerja.
Sedangkan aspek kualitatif meliputi:
(1) Ketepatan kerja dan kualitas pekerjaan
(2) Tingkat kemampuan dalam bekerja,
(3),Kemampuan menganlisis data/informasi, kemampuan/kegagalan
(4) Kemampuan mengevaluasi (keluhan/keberatan konsumen).
KRITERIA
Profesional di bidang Human Resources Management telah mengidentifikasi 6 kriteria
yang secara umum digunakan ketika membuat penilaian terhadap unjuk kerja seseorang,
yaitu :
1. Kualitas
Sejauh mana proses dan hasil kerja mendekati kesempurnaan. Artinya,
kemampuan dalam melakukan aktivitas sesuai dengan cara yang ideal dan
realisasi hasil kerja persis seperti yang diharapkan.
2. Kuantitas
Berkenaan dengan jumlah produksi (dapat dinilai ke dalam sejumlah uang
tertentu), jumlah unit dan jumlah siklus aktivitas.
3. Kecepatan Berespon
Sejauh mana suatu aktivitas pekerjaan dapat diselesaikan atau suatu output
produksi dapat direalisasikan dengan mempertimbangkan waktu yang digunakan
pekerja (dimana waktu tersebut juga dapat digunakan untuk aktivitas
pekerjaan lainnya). Juga dengan mempertimbangkan bagaimana koordinasinya
dengan output produksi yang berhubungan.
4. Efisiensi Biaya
Sejauh mana sumber daya yang dimiliki organisasi (orang, kapital, teknologi,
material) telah digunakan secara maksimal. Artinya, memperoleh hasil
setinggi-tingginya dengan menggunakan biaya serendah mungkin untuk setiap
unit dan juga untuk setiap penggunaan sumber daya.
5. Kontrol
Sejauh mana seorang pegawai dapat menjalankan tugas/pekerjaannya tanpa perlu
kontrol dari orang lain atau tanpa perlu intervensi orang lain untuk
menghindari hasil yang tidak diharapkan.
6. Pengaruh Hubungan Interpersonal (Interpersonal Impact)
Sejauh mana seorang pekerja dapat memperlihatkan self esteem, perhatian, dan
kerjasama dengan bawahan dan rekan sejawat.
KASOCs
Beberapa atribut penilaian yang sering digunakan dalam penilaian unjuk kerja adalah
Knowledge, Ability, Skill, dan Other Characteristics (KASOCs) dengan definisi
sebagai berikut :
1. Knowledge
Pengetahuan yang terorganisir, informasi, biasanya mengikuti prosedur tertentu, dan
fakta yang dapat langsung diaplikasikan untuk mencapai suatu fungsi tertentu.
2. Ability
Kompetensi yang diperlihatkan untuk bertingkah laku atau melakukan tindakan tertentu
yang teramati.
3. Skills
Kompetensi dalam segala hal yang memerlukan latihan yang dipelajari melalui
psikomotor termasuk kemampuan proses data, orang atau sesuatu yang sifatnya manual,
verbal dan mental.
4. Other Characteristics
Termasuk di dalamnya faktor kepribadian, attitude, aptitude, dan karakter fisik dan
mental, yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Tidak jarang para karyawan merasa kecewa karena dinilai tidak memiliki kinerja yang
standar. Mereka menganggap telah terjadi manipulasi data oleh penilai. Bisa saja
itu terjadi kalau penilaian kinerja terhadap karyawan dilakukan dengan ukuran
subyektif. Dengan kata lain terjadi peluang munculnya bias. Di sini, bias merupakan
distorsi pengukuran yang tidak akurat. Meskipun pelatihan bagaimana melakukan
penilaian kerja dapat mengurangi bias, maka bias sering terjadi ketika penilaian
tetap tidak lepas dari unsur emosional para penilai.
Bentuk bias penilai meliputi hal - hal berikut.
Hallo Effect
Bias ini terjadi ketika opini personal penilai terhadap karyawan mempengaruhi ukuran
kinerja. Sebagai contoh, jika seorang penilai menyukai seorang karyawan, maka opini
tersebut bisa jadi mengalami distorsi estimasi terhadap kinerja karyawan itu.
Masalah ini sering meringankan atau memberatkan ketika para penilai harus menilai
karakter kepribadian teman-teman mereka, atau seseorang yang sangat tidak disukainya.
Kesalahan Kecenderungan Penilaian Berlebihan
Beberapa penilai tidak menyukai untuk menilai karyawan apakah dalam kondisi efektif
atau dalam kondisi rata-rata. Dalam bentuk penilaian, distorsi ini menyebabkan para
penilai untuk menghindari penilaian ekstrem, seperti nilai amat buruk dan sempurna.
Sebagai gantinya mereka menempatkan angka-angka penilaiannya dekat rata-rata.
Inilah yang disebut bias atau kesalahan menilai. Padahal ini mengakibatkan kerugian
pada karyawan yang memang secara obyektif memiliki kinerja tinggi.
Bias Kemurahan dan Ketegasan Hati
Bias kemurahan hati terjadi ketika para penilai cenderung begitu mudah dalam menilai
kinerja para karyawan. Beberapa penilai melihat semua karyawan adalah baik dan
memberikan penilaian yang menyenangkan. Bias ketegasan hati merupakan hal yang
sebaliknya. Hal itu merupakan hasil dari para penilai yang begitu keras dalam
evaluasinya. Sering disebut “kikir” dalam menilai. Kedua bentuk bias ini lebih umum
terjadi ketika standar kinerja tidak jelas.
Bias Lintas Budaya
Tiap penilai memiliki harapan tentang perilaku manusia yang didasarkan pada
budayanya. Ketika orang-orang diharapkan untuk mengevaluasi yang lainnya dari kultur
yang berbeda, mereka mungkin menggunakan harapan budayanya kepada seseorang
memiliki kepercayaan atau perilaku yang berbeda. Dengan keragaman budaya yang lebih
besar dan tingginya mobilitas karyawan melintas batas internasional, sumber bias
potensial menjadi lebih mungkin muncul.
Prasangka Personal (Contrast Effect)
Ketidaksukaan penilai terhadap sebuah kelompok orang dapat mendistorsi penilaian
yang orang terima. Sebagai contoh, beberapa departemen SDM telah memperhatikan
penyelia pria boleh jadi memberikan penilaian rendah yang tidak semestinya diberikan
pada perempuan yang memegang pekerjaan atau jabatan yang secara tradisi dipegang
kaum laki-laki. Kadang-kadang para penilai tidak sadar akan prasangkanya, dan hal
ini membuat bias lebih sulit untuk dibatasi. Meskipun demikian, para ahli hendaknya
memberi perhatian dalam membuat pola penilaian tanpa adanya unsur prasangka.
Prasangka akan mengabaikan penilaian efektif dan dapat melanggar hukum
antidiskriminasi. Hal ini akan melanggar persamaan hak dalam pekerjaan.
Bagaimana mengurangi bias penilai? Manakala ukuran kinerja yang subyektif harus
digunakan, bias dapat dikurangi melalui pelatihan, umpan balik, dan teknik seleksi
kinerja yang lebih baik.
Ada tiga langkah pelatihan untuk para penilai, yaitu
1. Bias dan penyebabnya harus jelas,
2. Peranan keputusan tentang penilaian kinerja terhadap karyawan harus
dijelaskan untuk menekankan kebutuhan akan kejujuran dan obyektif, dan
3. Jika ukuran-ukuran subyektif digunakan, para penilai harus menggunakannya
sebagai bagian dari pelatihan.
Sebagai contoh, pelatihan di ruang kelas membutuhkan evaluasi terhadap
pelatih atau video-tape untuk menunjukkan situasi pekerja dan pekerjaan.
Kesalahan kesalahan yang tidak kelihatan selama evaluasi simulasi kemudian dapat
dibetulkan melalui tambahan pelatihan atau konseling. Sekali ukuran subyektif telah
dibahas dan masuk dalam praktik, para penilai harus memperoleh umpan balik tentang
penilaian sebelumnya. Apakah penilaian terbukti secara relatif akurat atau tidak
akurat. Umpan balik akan membantu para penilai menilai perilaku mereka secara lebih
tepat. Departemen SDM juga dapat mengurangi distorsi melalui penyeleksian teknik
penilaian kinerja yang hati-hati. Fokusnya pada teknik penilaian terhadap kinerja
masa lalu dan kinerja masa depan. Umpan balik dapat terjadi ketika yang dinilai
berhak untuk memprotes jika hasil penilaiannya dianggap tidak adil.
COMPANY PROFILE
Nama : PT. Soho Industri Farmasi
Berdiri : Tahun 1951
Presiden Direktur : Andreas Halim
Bidang usaha : Farmasi
Alamat : Kawasan Industri Pulo Gadung Jl. Pulo Gadung n0 6 Jakarta Timur
Produk : Diapet, Laxing, Curcuma Plus, Curvit.
Prestasi :
PT. Farmasi yang paling cepat berkembang diantara 20 pabrik lainnya.
Sejak didirikan sampai sekarang termasuk satu dari sepuluh pabrik teratas
Jumlah pegawai : 1500 orang
VISI DAN MISI
Visi
Menjadi pemimpin dalam bidang farmasi dan menyediakan produk kesehatan yang
berkualitas.
Misi
Bangga melayani customer dengan secara terus menerus menyediakan produk kesehatan
yang berkualitas serta mempromosikan hidup panjang yang berkualitas
CENTRAL PROBLEM
~ Masalah utama
• Waktu makan siang melrbihi ketentuan
• Bergosip saat atasan sedang tidak ada di kantor
• Sarana internet dan telepon digunakan untuk keperluan pribadi
~ Effect
• Masalah satu dan dua mengakibatkan pekerjaan kantor menjadi terbengkalai
• Pengeluaran kantor menjadi besar karena penggunaan fasilitas yang berlebihan
OBJECTIVE
• Diberikan sanksi yang keras dan tugas agar para karyawan/ti jera dan dapat
bekerja semaksimal mungkin pada saat jam kerja dikantor
• Memberikan penghargaan bagi karyawan/ti yang disiplin agar dapat dijadikan
teladan bagi karyawan/ti yang lain
AREA OF CONSIDERATION
• Diberikan training kepada para karyawan/ti untuk meningkatkan kemampuan dan
kinerja
• Diberikan insentif agar para karyawan/ti lebih aktif, dinamis, dan kreatif
• Melakukan pemotongan gaji karyawan/ti yang melakukan pelanggaran
ALTERNATIVE COURSE OF ACTION
• Memberikan surat peringatan
• Menarik semua fasilitas yang telah diberikan, seperti mobil, dsb
• Menurunkan pangkat karyawan/ti
• Memecat karyawan yang melanggar peraturan
ACTION PLAN
• Prioritas utama dari alternative course of action : Memberi surat peringatan
Action plan :
• Bagi karyawan/ti yang melanggar peraturan akan deberikan surat peringatan.
Maksimal penerimaan surat peringatan adalah 3 x, jika masih melakukan
pelanggaran, maka semua fasilitas akan ditarik lagi oleh perusahaan. Apabila
karyawan/ti tersebut masih melakukan pelanggaran, maka perusahaan akan
mengambil sikap tegas, yaitu memecat karyawan tersebut.
Kamis, 08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar